Hujan-hujan paling enak duduk di teras sambil ngliatin orang sliweran, entah itu penjual bakso Malang (Nusa Sari), Sari Roti, atau sekedar orang pulang kerja. Namun masih kurang klo hanya duduk-duduk saja. Ada resep minuman hangat nikmat lezat maknyuss yang bisa dinikmati sambil nongkrong di teras rumah masing-masing, atau klo ga punya teras, nongkrong di jalan pun bisa. Bahan dasar minuman ini yaitu daun Sereh (Lemon Grass), caranya? Begini:
1. Ambil daun sereh segar di halaman rumah (saya sarankan nanem sendiri, klo beli di pasar udh kering biasanya, klo beli di supermarket terlalu mahal).
2. Potong-potong daun sereh kira-kira sepanjang 5cm dan memarkan sedikit (jangan lupa dicuci dulu tentunya). Masukkan kedalam cangkir/mug. Jangan sungkan-sungkan, yang banyak supaya aroma sereh lebih kuat yang tentunya jadi lebih nikmat.
3. Tuangkan air mendidih kedalam gelas/mug yang sudah diisi daun sereh, tambahkan gula bila anda suka.
4. Diamkan 5 - 10 menit, tutup cangkirnya.
5. Aduk rata teh sereh yang telah siap diminum pake sereh yang udh dimemarkan akarnya.
Minuman sereh hangat ini udh siap dinikmati, cocok juga utk pendamping cemilan cookies, kue, dan martabak.
Selamat mencoba
Di negara kita tercinta ini (Indonesia) banyak sekali orang-orang yang (alhamdulillah, semoga saya juga diberi kesempatan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala) sudah menunaikan ibadah haji ke Mekah begitu pulang nama mereka jadi tambah panjang alias dengan tambahan gelar "H" untuk yang pria atau "Hj" untuk yang wanita contohnya H. Fulan atau Hj. Fulanah. Anehnya "penyakit" gelar haji seperti ini hanya ada di Indonesia, 10 tahun di Belanda, nggak pernah saya temui orang muslim yang sudah pergi haji namanya jadi ada Haji-nya. Ataupun orang-orang Arab yang asli, nggak pernah saya jumpai nama mereka pakai "H" didepannya. Apalagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah dengar kita beliau pakai gelar Haji? Haji Muhammad Rasulullah? Haji Abu Bakr? Haji Umar? Haji Ali? Haji Utsman?
Haji itu apa sih, kok hampir semua orang setelah menunaikan ibadah haji pada pakai gelar Haji?
Kalo kita lihat sebenarnya haji itu adalah suatu ritual ibadah, salah satu rukun Islam (Syahadat, Sholat, Zakat, Puasa, Haji) yang wajib dilaksanakan bagi mereka yang mampu baik secara materi maupun fisik. Contohnya bapak Fulan punya duit 1 milyar tapi koma di rumah sakit, berarti dia nggak wajib ibadah haji, begitu sembuh, sadar, dia wajib langsung ke Mekah untuk ibadah haji (tentunya pada waktu musim haji berikutnya). Contoh kedua, bapak Fulan sehat walafiat, atlit olimpiade cabang atletik, tapi dia nggak punya duit, utang masih banyak, maka dia nggak wajib ibadah Haji. Contoh lagi, ibu Fulanah kaya raya, utang nggak ada, malah banyak piutang, duit 1 triliun, tapi nggak ada mahram yang bisa nemenin, nah dia juga nggak wajib Haji, karena bagi wanita, wajib adanya mahram untuk bisa bepergian jauh, nggak ada ceritanya wanita haji sendirian.
Nah, logika sederhananya, kalau haji adalah ibadah "biasa", maksud biasa disini bukan berarti menyepelekan akan tetapi haji merupakan salah satu rukun Islam seperti halnya syadahat, sholat, zakat, dan puasa. Maka alasan apa yang bisa membenarkan pemberian gelar haji? Dan kalau mau konsisten seharusnya kalau mereka juga sholat, gelar Sholat juga harus dikasih, contohnya H. S. Fulan (kependekan dari Haji Sholat Fulan). Kalau dia bayar zakat dan puasa ditambah lagi udh syahadat, maka gelarnya harus lengkap S. S. Z. P. H. Fulan (kependekan dari Syahadat Sholat Zakat Puasa Haji Fulan), itu kalau mau konsisten, tapi kenapa hanya Haji saja yang dapat gelar? Ini saya nggak ngerti sama sekali. Kalau mereka berpendapat bahwa karena sudah pergi haji lalu dapat gelar, kenapa sholat enggak? apa mereka nggak sholat? apa mereka nggak syahadat? apa mereka nggak puasa? apa mereka nggak bayar zakat?
Dua syarat diterimanya ibadah[1]
Haji termasuk ibadah yang disyariatkan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh karena itu ada syarat-syarat yang harus dipenuhi agar haji kita bisa diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentunya syarat ritual ibadah haji juga termasuk selain dua syarat yang akan kita bahas disini. Dua syarat diterimanya ibadah ini adalah bukan karangan ulama-ulama terdahulu melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala lah yang menetapkannya. Seperti firmanNya dalam ayat terakhir surat Al Kahfi yang artinya:
“Sesunggunya Sesembahan kalian adalah sesembahan yang esa, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Robbnya maka hendaklah ia beramal ibadah dengan amalan yang sholeh dan tidak menyekutukan Robbnya dalam amal ibadahnya dengan suatu apapun“.(QS : Al Kahfi: 110)
Ibnu Katsir Asy Syafi’i rohimahullah mengatakan tentang ayat ini bahwa "Maka hendaklah ia beramal ibadah dengan amalah yang sholeh" maksudnya adalah amalan yang mengikuti syariat Allah yaitu mengikuti petunjuk/ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. "Tidak menyekutukan Robbnya dalam amal ibadahnya dengan suatu apapun", maksudnya adalah selalu mengharap wajah Allah saja dan tidak berbuat syirik kepada-Nya. Kemudian beliau (Ibnu Katsir) mengatakan, "Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[2]
Ibnu Katsir adalah seorang pakar tafsir yang tidak diragukan lagi keilmuannya, kalau ada diantara pembaca yang belum tau, silakan belajar dulu sebelum membantah.
Nah, kalau dua syarat ibadah tersebut sudah jelas dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka kenapa kita masih mengarap pujian manusia? Sekarang mari kita pikirkan gelar haji tersebut untuk apa kalau bukan mencari pujian manusia? Apa bedanya haji dengan gelar-gelar lainnya semacam Doktor, Profesor, Insinyur? Maaf-maaf saja, gelar-gelar tersebut belum tentu bisa memasukkan kita semua kedalam surga, tapi Haji kalau kita ikhlas melaksanakannya, insya Allah surga pahalanya. Jadi percuma bapak ibu udh capek-capek pergi ke Arab Saudi, duitnya juga banyak, tapi ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima jerih payah kita pergi haji, oleh karena itu marilah kita luruskan niat, hilangkan gelar haji dari nama kita, ikhlaskan haji kita hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala saja.
Hanya Allah yang memberi taufik.
[1] http://muslim.or.id/aqidah/dua-syarat-diterimanya-ibadah.html
[2] Lihat Shohih Tafsir Ibnu Katsir oleh Syaikh Musthofa Al Adawiy hafidzahullah hal. 57/III, terbitan Dar Ibnu Rojab, Mesir.
Source Control Management atau SCM, adalah sistem yang digunakan untuk mengatur project source code. Ada dua jenis SCM yang satu adalah Centralized dan yang lainnya adalah Distributed, Contoh Distributed SCM adalah Mercurial dan Git (bikinan Linus Torvalds, yang digunakan pada project Linux Kernel). Contoh Centralized SCM yang paling populer adalah Subversion atau yg biasa disingkat menjadi SVN, kemudian ada lagi Team Foundation Server (TFS) bikinan Microsoft.
Centralized vs. Distributed
Apa bedanya kedua tipe diatas? Centralized membutuhkan adanya server sebagai central repository sehingga otomatis client harus selalu terkoneksi apabila ingin melakukan commit/update source code. Beda dengan Distributed, tidak ada istilah central repository karena masing-masing developer memiliki repository masing-masing di komputer mereka.
Centralized
Gambar diatas adalah contoh ilustrasi Centralized SCM yang produk populernya adalah SVN. Disini terdapat central repository atau repository utama dimana developer harus mengupdate dan commit code kesana, dan membutuhkan koneksi ke server. Biasanya, model Centralized ini dipakai di perusahaan-perusahaan baik kecil, menengah, maupun yang enterprise, karena mereka ingin "value" mereka tersimpan dalam properti milik mereka sendiri dan biasanya developer-developer perusahaan ini bekerja in-house atau didalam kantor jadi tidak ada kendala dalam hal akses source code dari repository.
Distributed

Seperti kita lihat pada ilustrasi Distributed SCM diatas, setiap developer memiliki repository sendiri-sendiri di dalam komputer mereka sehingga peran server disini tidak ada. Joko punya repository sendiri di komputernya, dan dia bisa dengan mudah melakukan Push ke repository milik Kiki atau Ucil misalnya (biasanya melalui protocol HTTP), atau melakukan Pull dari repository milik Ucil. Hal yang sama dapat dilakukan oleh Ucil atau Kiki, tentunya apabila diijinkan oleh si pemilik repository. Dengan skenario seperti ini, satu repository bisa dijadikan sebagai "central repository" namun dengan keuntungan distributed tetap dimiliki oleh seluruh tim development. Beda dengan Centralized, model ini biasanya cocok digunakan untuk tim yang anggotanya tersebar di berbagai tempat, bisa jadi di segala penjuru dunia, contohnya adalah project open source dimana kontributor/developer bisa jadi berada dimana saja dan untuk bisa bekerja secara optimal, maka model Distributed ini sangat cocok.
Saya selalu penasaran kalau ada calon gubernur yang janji akan mengatasi macet dan banjir di Jakarta. "Mengatasi", bukan "mencoba mengatasi", tentu sangat berbeda artinya. Nah sekarang saya dapat kesempatan untuk tinggal dan kerja di ibukota Indonesia ini setelah 10 tahun merantau di negeri penjajah (Belanda). Untuk alat transportasi, saya sengaja tidak mau pakai mobil pribadi, saya lebih memilih memakai motor dan kebetulan ada kawan baik di Belanda yang meminjamkan motornya karena memang nganggur.
Nah, selama saya di Jakarta, macet memang menjadi makanan sehari-hari, dan memang luar biasa masalah kemacetan ini, tapi dengan naik motor, alhamdulillah macet tidak terlalu kerasa karena saya bisa nylempit melalui sela-sela mobil sampai-sampai suatu pagi waktu berangkat kerja, kaki saya dilindas mobil avanza yang dengan bengongnya ibu sopir nggak nyadar dan nggak mudeng ketika saya teriak-teriak minta dia maju (karena nggak mungkin mundur, di belakang dia udah ada mobil), namun alhamdulillah kaki saya nggak sampai hancur karena yang nginjek ban karet, hanya bengkak dikit aja. Saya juga akui pernah lewat jalur busway tapi karena nggak sengaja, waktu malam karena perbatasan antara jalan umum dan jalur busway nggak kelihatan jadinya saya jalan di jalur itu, baru sadar karena memang sepi dan sebelah saya macet luar biasa. Untuk jalan di trotoar saya pernah nyoba dengan sengaja, tapi itupun nggak lama dan cuma sekali aja untuk menghindari motor sableng.
Untuk banjir, terus terang saya belum ngerasain, baru lihat aja di berita. Tapi pernah baru hujan nggak sampai beberapa jam, tapi berita banjir udah dimana-mana, jadi kesimpulan saya, memang ada yang salah dengan tata kota Jakarta ini.
Nah sekarang ada seorang calon gubernur D.K.I. Jakarta yang berjanji akan mengatasi macet dan banjir dalam waktu 3 (Tiga) tahun. Saya sangat mengapresiasi semangat dan effortnya. Saya baca website resmi program bapak yang bersangkutan disini. Metode-metode yang diajukan antara lain:
- Restrukturisasi trayek dan peremajaan angkutan umum.
- Peningkatan kapasitas kereta listrik, lajur ganda, dan penambahan gerbong.
- Penyelesaian 4 koridor, penambahan 5 koridor baru, dan penambahan 1.000 armada baru Trans Jakarta.
- Melanjutkan pembangunan monorail rute Semanggi-Kuningan (14.2 km).
- Percepatan penyelesaian Jakarta Outer Riang Road (JORR).
Sedangkan untuk mengatasi banjir, metode-metode yang diajukan antara lain:
- Pembuatan 2 juta sumur resapan dan 1 juta lubang biopori.
- Program padat karya pengendalian banjir tingkat kelurahan.
- Pembangunan 4 Polder dan peningkatan ketinggian tanggul di Pantai Utara DKI.
Sebenarnya metode-metode ini udh bagus terutama tentang pembangunan sarana transportasi umum, saya dengan senang hati akan menggunakan monorail klo udh jadi (fans berat Metro Paris). Namun dari ini semua saya melihat masih ada yang kurang, yaitu dari faktor manusia. Mengatasi masalah macet dan banjir di Jakarta atau wilayah manapun di Indonesia berarti kita bicara juga masalah mentalitas dan kelakuan manusia Indonesia di jalan raya (termasuk saya). Kalau dari perspektif dunia informatika, kita nggak bisa seenaknya mengajukan solusi atas sebuah masalah hanya dengan memaparkan solusi tanpa ada rincian biaya, analisa resiko dan yang paling penting juga, timeframe yang realistis. Kalau cuma ngajukan solusi aja trus menang tender enak banget, begitu gagal, alasannya yg itu-itu juga "sudah berusaha semaksimal mungkin" atau "saya akan mundur".
Rencana-rencana yang dipaparkan diatas hanya menyentuh permasalahan yang berhubungan dengan infrastruktur saja, masalah yang berhubungan dengan manusia belum ada proposal pemecahannya bagaimana. Padahal masalah terbesar di Jakarta (dan juga di Indonesia) adalah masalah manusia. Jadi kalau saya bisa menambahkan beberapa poin di dalam proposal bapak calon gubernur, maka ini yang ingin saya tambahkan.
1. Angkot dan Bus Umum
Pada poin pertama, restrukturisasi trayek dan peremajaan angkutan umum, masih belum jelas yang mau direstruktur itu trayek yang mana dan yang mau diremajakan itu angkutan umum yang mana, karena trayek dan angkutan umum kan banyak jenisnya. Salah satunya angkot. Keberadaan angkot (atau angkutan umum yang bentuknya mobil biasa, bisa bentuk kijang kapsul, suzuki carry, dan sejenisnya) sebetulnya sangat diperlukan oleh kebanyakan lapisan masyarakat menengah kebawah karena relatif lebih murah dan jangkauannya bisa sampai ke daerah-daerah terpencil. Namun masalahnya disini adalah faktor supirnya yaitu manusia, dan sejauh mana para sopir itu mau nurut terhadap kehendak pak gubernur, yang ada paling demo para sopir angkot dan bus umum. Kecuali pak gubernur punya rencana lain untuk memberikan pekerjaan alternatif bagi sopir-sopir itu rasanya sulit sekali mengatur mereka.
2. Jumlah Kendaraan
Seberapa gampang kita beli kendaraan kredit (ngutang)? Fenomena ini juga ikut andil dalam masalah kemacetan di Jakarta (dan juga kota-kota besar lainnya). Punya kendaraan baik beli kontan maupun kredit itu hak kita masing-masing, tapi perlu adanya aturan dari pemerintah setempat, dalam hal ini gubernur bahwa Jakarta ini punya batas wilayah, dimana batas wilayah itu tetap, tidak flexibel dan tumbuh seiring bertambahnya jumlah kendaraan yang beroperasi di dalamnya (belum lagi angkot dan bus-bus yang sudah tidak layak pakai). Peraturan yang membuat orang berpikir seribu kali sebelum membeli kendaraan. Contoh:
- Pajak kepemilikan yang tinggi. Kalau perlu 50% dari harga kendaraan.
- Pembatasan kepemilikan kendaraan dan umur kendaraan yang boleh beroperasi. Anda nggak jijik lihat bus yang ngeluarin asap hitam begitu? Kalau saya yang punya wewenang, bus-bus seperti itu sudah masuk daur ulang.
3. MRT (Mass Rapid Transit)
Kalau ini dibangun dan dirawat dengan baik, saya yakin masalah kemacetan bisa ditekan semaksimal mungkin, kenapa? Karena kalau fasilitas nyaman, orang akan senang memakainya. Sekarang ini kalau bapak cagub punya mimpi bangun MRT tapi ngga ada rencana maintenance yang matang, paling setahun orang juga udh bosen. Kalau menurut pengalaman saya, stasiun-stasiun MRT harus dilengkapi oleh hal-hal berikut ini:
- 100% non-smoking area. Udara segar adalah hak asasi setiap manusia, jadi kalau ada orang ingin merokok maka dia yang harus cari tempat sendiri, atau sediakan plastik untuk orang merokok supaya bisa diikat di leher dan menutupi seluruh kepalanya, biar dia bisa hisap asap rokoknya sendiri berulang-ulang, itung-itung hemat rokok.
- Toilet yang SELALU bersih. Bayar ngga apa-apa, yang penting nyaman dipakai.
- Pasang minimal 2 orang polisi berbadan tegap untuk keamanan. Tembak ditempat preman-preman pemalak dan sejenisnya.
- Penjara minimal 1 bulan bagi orang yang tidak mau antri beli tiket maupun naik kendaraan.
- Penjara minimal 1 bulan dan denda minimal 10 juta rupiah bagi orang yang buang sampah tidak pada tempatnya. Kedengaran kejam, bertentangan dengan HAM? oke, saya mau jadikan halaman rumah anda sebagai Tempat Pembuangan Akhir, mau tidak?
- Denda minimal 10 juta rupiah bagi mereka yang mengganggu operasional MRT, misalnya memakai jalur busway, menghalang-halangi halte sehingga busway sulit untuk mengangkut penumpang.
4. Kualitas Jalan Raya
Come on pak, percuma punya mobil bagus sekelas BMW kalau jalan aja bolong-bolong kayak keju. Diperbaiki ya pak, dibikin mulus kayak kulit bayi. Duitnya itu dipake buat nambal jalan, jangan dipake buat ke luar negri.
Itu dulu deh pak poin-poin yang bisa saya ikut usulkan, semoga bapak-bapak cagub membaca dan mengagendakan ini, kalau Jakarta bener-bener nggak macet, banjir, dan aman terkendali, saya ridho pak kalau bapak berlibur sama keluarga ke luar negri (pake duit sendiri ya pak).