Salah satu hal di Indonesia yang bikin gemes untuk dikomentari, yaitu Car Free Day. Alih-alih menjadi sebuah kegiatan yang positif, namun menurut saya CFD adalah kegiatan yang paling pointless dan nonsense dalam sejarah Indonesia. Kenapa? For a start, it doesn’t even run for a full day. Car Free Day di Jakarta cuma dari jam 06:00 sampai 11:00 pagi, nggak sampe 1/4 hari, dibilang Car Free Day, harusnya Car Free Nanggung lebih cocok. Dan setelah itu? balik lagi ke kegilaan kayak gambar dibawah ini.

mobil-nekat-terobos-taman-pemisah-jl-sudirman-001-mudasir

Chaotic Jakarta

Apakah kita semunafik itu? Seperti memberi permen/mainan kepada anak kecil yang merengek-rengek, menangis , hanya untuk meredam sesaat terhadap masalah yang sudah begitu akut dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan “Car Free Day”. Jalan Sudirman – Thamrin itu sudah begitu parahnya, sehingga bisa saya katakan dua jalan protokol itu adalah jalan maut, gimana nggak, coba tongkrongin detikcom sabtu/minggu pagi, mesti ada aja mobil nyemplung di bundaran HI atau nabrak pohon. Atau kalau penyebab mautnya tidak secara langsung, mungkin pelan-pelan lewat kanker paru-paru gara-gara polusi, itu yang motoran tiap hari lewat situ apa gak bengek? Belum lagi yang stress tiap hari kena macet, yang ketabrak lari. Dan sekarang kita asik-asik aja dengan Car Free Day, dikiranya itu sudah wah banget, doing something banget, green banget untuk jakarta, green apanya, matanya yg green (ijo, mata duiten). Dan lagi-lagi Car Free Day hanya modal tiru-tiru saja dari kota-kota di negara lain yang sudah maju. Klo negara maju memang kotanya sudah tertata rapi, mobil gak seabrek kayak Jakarta, sistem transpotasi udh beres, lha ini Jakarta kota amburadul ngakunya megapolitan (face palm).

Nah trus gmn donk? Ya serahin aja tuh yg dulu ngotot mau jadi Gubernur, yang dulu ngotot mau jadi pemimpin. Klo saya ya mana ada urus.

No Car Zone

Tapi, klo Gubernur/Presidennya mau ekstrim, Car Free Day bisa diubah jadi No Car Zone, dan menurut saya ini adalah ide yang baik supaya Jakarta tidak semrawut, udaranya lebih bersih, dan orang lebih ceria. Gmn tuh? Begini nih, daripada cuma hari Minggu pagi, sebaiknya ada satu zona center di Jakarta yang totally nggak boleh ada kendaraan berasap dan bertinja masuk (baik itu mobil, motor, bis, andong maupun bajaj) dan satu zona ini berlaku setiap hari setiap minggu setiap waktu dan setiap saat, alias tanpa pengecualian. Anda pejabat negara? naiklah sepeda, kan sama-sama manusia, masak naik sepeda gak bisa. Anda dubes negara sahabat? naiklah sepeda, kan di negara anda yang sudah maju juga budayanya seperti itu, paling pol naik angutan umum yang udah modern. Anda anggota DPR/DPRD? lari sambil jongkok aja hehe. Intinya jangan manja, jangan aji mumpung, justru sebagai pejabat harusnya memberi contoh, tapi klo anda buru karena ada tugas negara yang mendesak, kami ikhlas dan mengerti kok kalau anda pakai Helicopter. Zona Satu ini masih boleh dilewati oleh kendaraan yang tidak berasap dan bertinja, semisal sepeda onthel, sepeda listrik, kalau MRT dibawah udh jadi ya boleh dipakai. Intinya zona satu adalah zona bersih, banyak taman, jalur pejalan kaki dan jalur sepeda, cafe-cafe makan siang, toko-toko suvenir, asik dah. Kira-kira kalau di peta mungkin zona satu itu seperti ini.

No Car Zone

No Car Zone

Tentunya pemerintah harus membangun infrastruktur yang memadai supaya No Car Zone ini bisa berjalan dengan lancar. Kalau kita lihat peta diatas, perkiraan No Car Zone adalah area yang berwarna merah. Disitu nantinya pembenahan besar-besaran harus dilakukan antara lain pembangunan jalur sepeda, penataan cafe/PKL supaya lebih rapi, pembangunan taman-taman kota yang bikin pemandangan lebih sejuk. Beberapa infrastruktur berikut perlu dibangun untuk menunjang program ini:

1. Tempat Parkir

Titik hijau pada peta diatas menunjukkan lokasi tempat-tempat parkir super besar yang dapat menampung ribuan mobil dan motor bagi mereka yang datang dari luar Jakarta, misalnya dari Depok, Ciputat akan parkir di Parking Lot Blok M, kemudian yang dari arah Bekasi, Cikarang bisa parkir di Parking Lot Halim atau Rawamangun. Yang pasti tempat-tempat parkir ini canggih, aman, dan ada atapnya sehingga kendaraan bisa awet disitu tidak kepanasan maupun kehujanan, kapasitas dijamin besar dan cukup, tingkat keatas dan ke basement

2. Persewaan Sepeda

Persewaan sepeda harus disediakan di tempat parkir besar dan di beberapa titik di dalam Zona Satu. Sepeda yang ditawarkan ada yang sepeda onthel biasa maupun sepeda listrik, bagi mereka yang agak buru-buru. Pemerintah harus menyediakan sepeda yang cukup, apabila sepeda habis bisa naik MRT bawah tanah, dan saya yakin bakalan ada ojek sepeda.

3. Gerbang

Gerbang masuk Zona Satu perlu dibangun supaya tidak ada mobil/motor yang nyelonong seenaknya. Ini Indonesia, orang-orang tolol seperti itu pasti ada, dan banyak, oleh karena itu perlu adanya ketegasan. Semua jalan mobil dirombak menjadi taman, jalan sepeda dan jalur pejalan kaki yang pastinya lebih sempit, kemudian gerbang melingkar Zona Satu dengan penjaga yang ramah tapi tegas yang diberi kewenangan penuh untuk menthung ditempat siapa saja yang memaksa masuk pakai motor/mobil!!

4. Underground MRT

Ini penting juga, supaya ada transportasi umum bawah tanah yang memiliki stasiun di Zona Satu.

5. Tram Listrik

Tram merupakan moda transportasi umum yang berjalan diatas tanah dengan menggunakan rel namun digerakkan dengan listrik sehingga tidak menimbulkan polusi, tram telah digunakan di negara-negara maju sebagai alat transport di tengah kota. Apabila MRT tujuannya menghubungkan antara kota satelit dan kota besar, maka tram digunakan untuk transportasi di dalam kota, seperti bis.

6. Keran Air Minum

Perlu adanya keran air siap minum gratis dan higienis, supaya yang capek ngonthel atau jalan kaki bisa minum gratis

7. No Demo Zone

Perlu dijaga dengan ketat bahwa Zona Satu ini adalah TOTAL NO DEMO ZONE, demo itu lebih parah dari polusi, so klo perlu TNI harus jaga-jaga di pintu gerbang kalau ada gelagat buruh atau parpol mau demo. Kalau nekat masuk, penthungin aja ditempat. Kalau mau demo, pemerintah akan menyediakan tempat di lepas pantai Ancol, Jakarta Utara.

 

Dengan demikian, No Car Zone bisa menjadi solusi atas polusi dan kemacetan yang terjadi tiap hari di Jakarta, khususnya di daerah tengah kota. Saya yakin dampaknya juga jauh lebih terlihat dan terasa daripada Car Free Day yang sekarang. Orang lebih semangat bekerja, lebih sehat, nggak stress. Semoga dibaca oleh pemerintah dan diterapkan dalam waktu dekat.

Biang kerok kemacetan Jakarta nomor satu adalah salah pemerintah, baik pusat maupun DKI, rakyat ikut andil setelah pemerintah gagal melaksanakan tugasnya. Mari kita lihat bukti-bukti nyata selama ini bagaimana pemerintah membangun Jakarta seolah-olah menjadi kota megapolitan, akan tetapi di balik itu semua terdapat kesalahan fatal yang mengakibatkan Jakarta menjadi kota yang semrawut dan semakin semrawut setiap harinya.

Jakarta Macet

Jakarta Macet (Image by: nst.com.my)

1. Kendaraan

Entah sengaja supaya dapat “upeti” dari produsen kendaraan atau memang lalai keasyikan cari setoran buat partai atau memang pemerintah diisi oleh orang-orang yang tidak kompeten, sepertinya tidak ada regulasi yang jelas mengenai kendaraan, sementara jalan yang ada tidak tambah lebar. Orang-orang dengan gampangnya dapat fasilitas kredit kendaraan bermotor. Di kampung-kampung Jakarta, seseorang yang tidak berpenghasilan tetap, hanya dengan modal KTP dan KK, bisa dapat motor dengan membayar DP Rp. 500.000 – Rp. 1.500.000. Ini namanya kegilaan. Belum lagi absennya sistem transportasi masal yang memadai. Berapa presiden kita punya sampai sekarang? Berapa gubernur Jakarta punya sampai sekarang? Kok nggak ada yang berpikir membangun transportasi masal berbasis rel alias kereta? Mereka dulu pada ngapain? Tentu logis jika ada permainan antara produsen kendaraan dengan pemerintah supaya pemerintah tidak membangun sistem transportasi masal karena Jakarta merupakan lahan yang menggiurkan bagi produsen kendaraan tsb., mereka bisa menjual dengan seenaknya dan rakyat pun tidak punya pilihan lain karena absennya transportasi umum. Jika dihitung kumulatif tahun demi tahun, maka dampaknya akan terlihat pada foto diatas.

2. Kondisi Jalan

Disini saya ingin mengamati jalan tol, karena jalan selain jalan tol lebih parah, hopeless, nggak ada gunanya dibahas. Jika kita lihat secara seksama, seperti ada upaya sistematis pada pembangunan jalan tol, supaya kemacetan pasti terjadi. Mari kita lihat tol dalam kota pada persimpangan dari gerbang tol Prof. Dr. Sedyatmo arah ke Ancol dan Semanggi. Perhatikan gambar dibawah ini:

Tol Prof. Dr. Sedyatmo

Tol Prof. Dr. Sedyatmo

Jalan satu jalur yang ditandai diatas adalah jalur yang mengarah ke Semanggi, jalur padat yang seharusnya ada minimal tiga lajur kendaraan bahkan menurut saya harus ada delapan lajur, tapi disini bisa kita lihat hanya satu, entah kontraktornya linglung atau pemerintahnya yang sakit jiwa. Kita semua tau, setiap sore jalan ini pasti macet, pasti. Satu lajur kendaraan dipakai untuk dua kendaraan sekaligus, that’s madness, berapa lama jalan itu ada disana? Googling menunjukkan kira-kira sejak tahun 1987. Dan arah sebaliknya pun sama, satu jalur mengarah ke bandara dari arah Semanggi, total madness. Lebar jalan utama hanya cukup untuk tiga lajur mobil, kalau dihitung secara kasar, kira-kira lebar jalan tol dengan tiga lajur adalah lebar tiga mobil ditambah extra tiga meter dan ditambah lagi extra dua bahu jalan di kanan dan kiri, perhitungannya seperti ini (disclaimer, perhitungan berikut adalah perhitungan kasar berdasarkan perkiraan):

Lebar mobil rata-rata: 1,5 meter
Panjang mobil rata-rata: 4 meter
Lebar 3 lajur jalan: 1,5 + 1 = 2,5 meter * 3 = 7,5 meter
Lebar 2 bahu jalan: 1,5 + 0,5 = 2 meter * 2 = 4 meter
Lebar jalan tol keseluruhan = 7,5 + 4 = 11,5 meter

Jarak dari titik pada gambar peta diatas sampai dengan Semanggi kira-kira 11 km. Dari hitungan ini saja, hanya sekitar 6000-an mobil yang dapat ditampung oleh ruas jalan tol yang sedang dibahas, jika bahu jalan dipakai (dan ini sudah pasti terjadi mengingat mental pengendara Indonesia yang sampah), maka kemacetan pasti terjadi di pintu keluar, ditambah lagi pejabat-pejabat yang nggak tau malu yang ikut-ikutan lewat jalur yang disebutkan diatas, ini betul-betul terjadi, suatu sore saya pulang dari Semarang menumpang pesawat Air Asia dan memutuskan untuk lanjut dengan bus Damri dari bandara menuju Blok M, tapi perjalanan itu memakan waktu 2,5 jam, dan pada saat diatas jalan layang yang cuma satu lajur dan macet itu, ada mobil pejabat yang diiringi oleh sirine dengan suara yang memuakkan lewat (atau mencoba lewat), buat saya, orang seperti itu adalah orang yang paling idiot dan perlu dimasukkan RSJ.

Dua alasan tersebut sebetulnya sudah cukup untuk menentukan biang kerok macet di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia = Pemerintah.

3. Mental Pengendara

Disini ngga perlu penjelasan panjang lebar, silakan ambil motor/mobil, keliling Jakarta, maka akan kelihatan sendiri bagaimana perilaku manusia Indonesia yang konon katanya santun-santun, sopan-sopan itu. Yang ada adalah monyet-monyet egois berkendaraan. Most of them dapat SIM tanpa ujian, tanpa tahu teori berkendaraan di jalan. Padahal teori berkendaraan itu ngga cuma bagaimana caranya bisa mengendarai motor/mobil, tapi banyak faktor-faktor lain yang perlu diperhatikan di jalan. Inilah akibatnya, seorang pemimpin seharusnya bisa mengantisipasi bahwa Indonesia memiliki jumlah penduduk yang banyak khususnya di Jakarta. Faktanya mayoritas rakyat itu kurang berpendidikan, cenderung memikirkan diri sendiri, perilaku seperti ini sangat bahaya jika dibawa ke jalanan. Jadinya adalah perilaku berkendara yang seperti monyet, nggak mau mengalah, rambu-rambu lalu lintas yang nggak berarti di mata mereka (monyet mana ngerti?). Terutama sopir angkot, perlu ada torture treatment buat mereka.

Kesimpulan

Memperbaiki Jakarta macet, tidak akan mudah, menurut saya perlu waktu 10 – 20 tahun kedepan, minimal. Tidak hanya infrastruktur namun manusia yang paling penting juga perlu perbaikan. Selain transportasi masal yang benar-benar masal, perlu adanya ketegasan dari pihak pemerintah pusat dan daerah untuk membatasi penjualan kendaraan, persulit syarat-syarat kredit, berlakukan pajak yang sangat tinggi, juga tarif tol dan parkir yang sangat tinggi (tol 50.000 dan parkir mobil per jamnya 20.000) menurut saya harus segera diberlakukan, kalau perlu sekarang juga, peduli amat sama yang protes, gunanya pemerintah adalah untuk memerintah dengan tegas, bukan untuk cari duit via proyek.